Total pengunjung : 1967157 orang
|
Klik : 3810868 kali |
Bulan ini : 2002 orang |
Hari ini : 71 orang |
Sedang On-line : 7 orang |
Buat yang belum gabung di millis kartunet club,
silakan kirim email kosong ke alamat kartunetclub-subscribe@yahoogroups.com
Dapat banyak keuntungan dengan bergabung di kartunet club,
dan temukan ratusan kartunetters untuk diajak diskusi..
|
|
|
Cerita Bersambung : Perjalanan Enam Bintang : Antara Dua Hati Masuk pada hari Minggu, 09-April-2006 - oleh : Rafik Akbar
Dibaca 1770 kali
Di sebuah kos-kosan yang cukup tenang dan nyaman, terlihat seorang pemuda berkulit putih dan berambut lurus sedang memainkan gitar kesayangannya di sebuah kamar yang cukup untuk tiga tempat tidur dan dua buah lemari belajar.
?Kring?kring?kring? Suara telfon memecahkan telinga setiap orang yang berada di sampingnya. Pemuda itupun segera mengangkat telfon itu dengan hati-hati.
?Halo assalamu?alikum, siapa ya?? Pemuda itu menanyakan identitas si penelfon.
?Wa?alaikum salam, ini ivan ya!? Sebuah suara yang lumayan imut terdengar dari ujung sana.
?Iya, ini siapa?? Ivan belum mengenali suara itu.
?Masa Ivan lupa sih, inikan Mila? ?Oh Mila, sory Mil aku agak ngantuk nih? ?Mila ganggu Ivan ya!? ?Ah nggak kok, ada apa Mil?? Ivan bertanya dengan sopan.
?Nggak ada apa-apa kok, Mila Cuma lagi kesepian aja? ?Emangnya lagi pada ke mana?? ?Lagi pada tidur? ?Yah kirain lagi pada pergi? ?Hahaha? Mila tertawa geli. ?Van besok ada acara gak?? ?Emangnya kenapa?? ?Mila pengen ketemu sama Ivan, ada yang mau Mila omongin sama Ivan? ?Ngomongin sekarang aja? ?Gak enak ah kalo di telfon? ?Ya udah, Mila mau ketemuan di mana?? ?Gimana kalo kita ketemuan di taman bunga yang biasa kita ketemu kalo mau berangkat sekolah? ?Jam berapa?? Ivan bertanya lagi.
?Jam empat sore aja deh? ?Oke deh kalo begitu sampe besok sore ya? Ivan mengucapkan salam untuk mengakhiri telfon itu.
?Thanks ya Van? ?Sama-sama? Ivan segera memutuskan telfonnya.
Setelah Ivan menerima telfon dari Mila Ivan bergegas pergi ke kamarnya kembali untuk tidur karna jam sudah menunjukkan pukul 22.00 wib.
Keesokan harinya pukul 15.30 wib, di rumahnya Mila.
?Dik mau kemana sih, jam segini udah dandan? ?Ah kakak kaya gak tau anak muda aja deh, adik ada janji sama teman adik jam empat sore ini? ?Pasti gebetan kamu ya? ?Hehehe kakak tau aja? ?Huh dasar genit? Rosa kakaknya Mila meledek adiknya yang sedang berdandan. Kemudian Rosa menuju ke meja telfon dan memutar nomor telfon.
?Halo ini Ivan ya?? Tanya Rosa.
?Iya, ada apa Ros?? Ivan bertanya kembali kepada Rosa.
?Van nanti malam ada acara gak?, gw pengen ketemu lo nih? ?Wah dalam rangka apa nih?? Ivan bertanya sambil meledek.
?Gak ada acara apa-apa kok, bisakan?Insya ALLAH gw usahain deh, tapi jam berapa?? Ivan bertanya lagi.
?Gimana kalo jam delapan di taman yang dulu pertama kali kita berkenalan , bisakan?? ?Oke deh sampai nanti malam ya!? Ivan segera memutuskan hubungan telfonnya.
?Hmm?gw gak kalahkan sama adik gw yang ganjen itu, akhirnya nanti malam gw juga bisa ketemu sama pujaan hati gw? Rosa berkata-kata dengan senangnya di dalam hatinya.
?Kak abis nelfon siapa loh?? ?Pastinya special dong, kakakkan juga gak mau kalah sama kamu dik?
?Adik denger kayanya nanti malam kakak mau ketemuan ya sama dia? ?Iya dong, di taman lagi? Rosa coba berkata sedikit angkuh di depan adiknya sambil berjalan ke depan TV.
?Emangnya kakak aja yang janjian di taman, adik sekarang juga janjian di taman? ?Ah dasar kamu ikut-ikutan aja? ?Hahaha? Mila tertawa geli sambil berjalan menuju ke pintu keluar.
?Mila berangkat kak!? Mila berteriak tanda pamit kepada kakaknya.
?Hati-hati dik, tembak aja cowok itu kalo kamu udah ngebet? ?Emang rencanaku seperti itu kak? Mila menyauti saran kakaknya dari kejauhan.
?Van sudah tak sabar rasanya aku menunggu nanti malam, akupun akan melakukan hal yang sama seperti apa yang akan adikku lakukan dengan pujaannya yang selalu dia rahasiakan itu? Rosa berkata-kata dengan senangnya dalam hatinya.
Sore hati di taman yang penuh dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran di hiasi dengan warna keemas-emasan dari matahari yang sudah mulai menyembunyikan tubuhnya sedikit demi sedikit. Nampak sepasang remaja sedang duduk di bawah rimbunnya pohon akasia dan dikelilingi oleh mawar-mawar merah dan putih yang selalu memperindah para wanita yang berada di taman itu.
?Van aku boleh menanyakan sesuatu gak sama kamu? ?Tanya apa?? ?Menurut kamu kenapa di dunia ini harus ada pria dan wanita? Mila bertanya kepada Ivan sambil matanya tak jenuh memandangi sekuntum mawar merah yang baru saja dia petik dari pohonnya yang tepat di sampingnya.
?Karena Tuhan menginginkan setiap hambanya mendapatkan pedamping yang selalu setia mendampingi hambanya yang lain sampai akhir hayatnya? ?Dan kenapa sih cinta itu datang tak pernah mengenal waktu?? ?Hanya orang yang merasakan dan menjalani peristiwa itu saja yang dapat menjawabnya? Ivan dengan tenangnya menjawab pertanyaan-pertanyaan Mila yang cukup aneh baginya.
?Kamu tau gak kenapa aku menanyakan hal itu sama kamu? ?Nggak? ?Aku menanyakan hal itu sama kamu karena aku ?? Mila berhenti sejenak untuk meneruskan kata-katanya. Ivanpun terdiam dan hanya dapat merasakan hembusan angin sore yang sejuk.
?Kenapa kamu hentikan kata-katamu itu, takutkah kamu meneruskannya?? Terkejutlah Mila karena dia tidak menyangka Ivan akan berkata seperti itu terhadapnya.
?Apakah kamu sudah tau apa yang akan aku katakan padamu? ? Tiba-tiba suasana menjadi hening dan tegang, Mila semakin keras menggenggam setangkai bunga mawar yang selalu setia berada di genggamannya.
?Mil? Suara Ivan menggetarkan bulu-bulu roma Mila, ?Lebih baik kamu yakinkan dulu, apakah tepat kamu mengatakannya kepada orang seperti aku? ?Tapi aku yakin Cuma kamu orang yang aku sayang Van!? Mila tanpa sadar telah membocorkan apa yang ada di dalam isi hatinya selama ini. Suasanapun kembali hening, burung-burungpun berterbangan melihat ketegangan di antara kedua remaja itu.
?Hari semakin gelap lebih baik kita pulang sebelum hari benar-benar gelap? Ivan mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai menegang itu.
?Tapi apa jawabanmu tentang hal itu Van?? Mila tak memperdulikan apa yang baru saja Ivan katakan.
?Sory Mil, aku belum bisa menjawab hal itu sekarang, aku butuh waktu? ?Sampai kapan?, aku gak mau lagi kehilangan kamu Van? ?Apapun jawabanku aku harap kamu bisa terima, karna itulah jawaban yang terbaik bagiku dan mungkin bagimu? ?Baiklah kalo begitu kamu boleh menjawabnya kapan saja, aku siap menunggu apapun jawabanmu? Mila menatap wajah Ivan penuh arti dan merekapun beranjak pergi ke luar taman dan berpisah di depan pintu gerbang taman tersebut.
Di perjalanan menuju ke kosan.
?Mila, tak sangka aku, ternyata selama ini kau memendam rasa lebih terhadapku, tapi apakah pantas aku menjadi pangeran cintamu?? Ivan terus-menerus bergumam di dalam hatinya sambil meyakinkan bahwa apa yang baru saja dia alami bukanlah sebuah mimpi.
Sesampainya di kosan jampun sudah menunjukan pukul 18.30 wib, Ivanpun segera pergi ke mushollah di dekat kosanya untuk melaksanakan ibadah shalat magrib, setelah Ivan selesai shalat magrib diapun berdoa.
?Ya ALLAH Ya Tuhanku, jodoh, rizqi, takdir dan mautku telah engkau tetapkan ketika aku berusia empat bulan di dalam kandungan ibuku, sekarang ada seorang temanku yang sudah aku kenal baik mengungkapkan perasaannya padaku, aku bingung apa yang harus aku katakan padanya, berikanlah aku petunjukmu Tuhan, amin ya Rabbal?alamin? Ivan menyudahi doanya dengan sejuta rasa bingung di benaknya.
Jam telah menunjukkan pukul 19.30 wib, Ivan yang sedang tidur-tiduran di mushollah teringat janjinya kepada Rosa, teman lamanya yang sudah hampir dua tahun tidak berjumpa, diapun segera beranjak pergi ke kamarnya untuk mempersiapkan diri berangkat bertemu dengan Rosa malam ini.
?Van mau ke mana lagi loh?? Tanya Gading teman sekamarnya Ivan.
?Gw mau ketemu teman lama Ding? Jawabnya.
?Mau ketemu di mana lo?? ?DI taman depan sana? ?Gw berangkat dulu ya Ding!? ?Oke deh hati-hati loh? ?Yap thanks? Ivan menjawabnya dan segera pergi keluar untuk secepat mungkin sampai ke tempat yang dijanjikan agar tidak telat.
Ketika Ivan telah sampai di taman itu dia terheran-heran karena kebingungan.
?Kok sepi banget si, mana Rosa ya, biasanya kalo dia udah ngeliat gw datang dia langsung manggil gw? Ivan bergumam dan bertanya-tanya dalam hatinya sambil duduk di bangku taman.
Ketika Ivan sedang menikmati sejuknya hembusan angin malam, tiba-tiba dari belakang tempat duduknya ada seorang gadis yang berparaskan cantik, berambut panjang terurai, dan berkulit putih berjalan mengendap-endap, sepertinya dia ingin mengagetkan Ivan yang sedang duduk sendiri di bangku taman itu.
?Dor?? Rosa mengagetkan Ivan dengan menepuk punggungnya.
?Eh elo bikin kaget aja? ?Hahaha sory gw telat, soalnya tadi gw abis beli ini buat lo? Rosa menunjukan sebuah benda yang berbentuk persegi panjang dan berwarna coklat. ?Ini buat lo Van? Rosa memberikan coklat itu kepada Ivan.
?Thanks Ros, pake repot-repot amat sih, amat aja gak repot? ?Hahaha? Mereka tertawa gwli.
?Gimana sekolah lo Van baik-baik ajakan?? Rosa memulai pembicaraan malam itu.
?Alhamdulillah, kalo lo gimana, lo masih kuliahkan?? Ivan bertanya balik.
?Alhamdulillah kuliah gw baik-baik aja? Rosa menjawab pertanyaan Ivan sambil membuka bungkusan coklat itu berlahan-lahan.
?Ngomong-ngomong kenapa si lo ngajakin ketemuan sama gw di sini?? Ivan menanyakan sesuatu yang masih menjadi misteri baginya.
?Nggak kenapa-kenapa kok, gw pengen beda aja? ?O iya gimana kabarnya Rio?, lo masih jadiankan sama dia?? Tiba-tiba Ivan membuat suasana menjadi hening. ?Kenapa lo diam Ros?? Tanya Ivan penasaran.
?Gw udah gak sama dia lagi Van? ?Emangnya kenapa?? ?Panjang ceritanya Van, yang pasti dia udah nyakitin hati gw? ?Oh sory Ros, gw gak ada maksud?? ?Nggak kok Van, lo gak salah, justru itu gw ngajak lo ke sini karna ada yang mau gw bicarain sama lo? ?Tentang apa nih?? Ivan bertanya dengan herannya.
?Gw bingung Van, semenjak gw disakitin sama Rio gw jadi sulit untuk membuka lagi hati gw untuk cowok lain, gw takut cowok lain akan melakukan hal yang sama dengan apa yang telah Rio lakukan terhadap gw? Rosa menjelaskan perihal kesedihannya kepada Ivan sambil memandangi bintang-bintang yang sudah terlihat di langit malam.
Kau pergi Meninggalkan luka di hatiku
Luka yang amat sangat mendalam
Kau datang dengan seribu janji
Tak satupun janji itu kau tepati
Air mataku yang dulu telah mongering
Sekarang kembali membasahi pipi
Apakah engkau memikirkanku di sini?
Sedangkan aku di sini amat tersakiti
Kuingin kau merasakan apa yang aku rasakan
Ternyata kau telah berpindah ke lain hati
Kau telah mengkhianati cinta ini
Cintaku yang amat tulus dan sejati
?Lo boleh marah sama dia tapi bukan berarti cowok di dunia ini sama seperti Riokan? Ivan mencoba menenangkan Rosa yang hampir menyia-nyiakan air matanya.
?Tapi sulit banget gw menemukan pengobat hati ini Van? ?Sabar aja Ros semuanya butuh proses? ?Tapi sekarang gw udah dapat pengobat hati itu Van? ?Nah itu bagus, jadi sekarangkan lo udah gak putus asa lagi kan!? ?Tapi gw gak tau apakah dia bersedia menjadi pengobat hati gw atau nggak? Kenapa gak lo coba dulu? Saran Ivan.
Rosa sejenak terdiam, dia mengambil nafas dalam-dalam dan kemudian membuangnya dengan berlahan-lahan.
?Sebenarnya pengobat hati gw itu adalah elo Van, dan kalo gw boleh jujur sebelum gw jadian sama Riopun gw udah menaruh hati sama lo, tapi gw selalu berusaha untuk menghilangkan rasa itu dari hati gw dengan cara jadian dengan cowok lain? Rosa mengatakan satu hal yang membuat jantung Ivan tak dapat berdetak normal.
?Jadi selama ini lo?? ?Pleas Van maafin gw, gw gak pernah sanggup untuk mengatakan ini semua sama lo, tapi ternyata gw sadar cinta gw ini bener-bener tulus sama lo sehingga dua tahun kita tidak bertemu gw tetap mencintai lo? Rosa mencoba menjelaskan dengan expresi meyakinkan.
Angin malam bertiup dengan kencangnya, bertanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan, tapi rasa kaget yang tak diduga melupakan itu semua, Ivan dan Rosa masih sama-sama terdiam.
?Gw tau gw salah, mungkin gak pantas gw ngomong seperti ini sama lo, tapi gw udah gak bisa lagi berbohong sama hati gw Van!? ?Lo gak salah kok Ros, seharusnya gw yang minta maaf sama lo, mungkin untuk sementara ini gw belum bisa mengatakan apa-apa dulu sama lo, tapi gw ngerti kok apa maksud lo sekarang, gw baru bisa jawab pertanyaan lo itu nanti kalo gw udah menemukan jawaban yang terbaik untuk lo dan juga untuk gw? ?Bener lo mau menjawabnya Van!? ?Iya tapi gak sekarang? ?Gak apa-apa gw siap menunggu kapanpun dan apapun jawaban dari lo, kalo gitu kita pulang sekarang aja ya, kayanya mau hujan nih? Rosa mengajak Ivan untuk pulang, dan akhirnya merekapun segera meninggalkan taman itu.
***
kirim ke teman | versi cetak
Penyuntingan oleh editor Kartunet.com
Untuk mengirimkan hasil karya anda agar dipublikasikan di situs kartunet.com, silakan klik Kirim Karya Komentar karya
Ada 1 komentar tentang karya ini :
Rabu, 23-Sep-09 - oleh : idsam yasperto | | wah qo seperti sinetron ya? |
Halaman 1 dari 1 | Formulir pengisian komentar
Aturan :
Kode HTML tidak diperbolehkan.
Dilarang pula menggunakan tanda baca, kecuali tanda titik \".\", koma \",\", kurung buka tutup \"()\", dan tanya atau seru \"? !\".
Baca juga:
|
|

Submit Your Site Here
» Add Link
» Browse link
|