Total pengunjung : 1967197 orang
|
Klik : 3810921 kali |
Bulan ini : 2002 orang |
Hari ini : 74 orang |
Sedang On-line : 7 orang |
Buat yang belum gabung di millis kartunet club,
silakan kirim email kosong ke alamat kartunetclub-subscribe@yahoogroups.com
Dapat banyak keuntungan dengan bergabung di kartunet club,
dan temukan ratusan kartunetters untuk diajak diskusi..
|
|
|
Cerpen : MALING Masuk pada hari Kamis, 04-Juni-2009 - oleh : Charles
Dibaca 381 kali
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme telah menggerogoti bangsa ini sehingga kesengsaraan merajalela dimana-mana. Masihkah kita hanya mampu berpangku tangan, menontoni semua yang telah terjadi di bumi pertiwi ini. Bangkitlah sepertihalnya cerita pendek berikut ini
---
Cahaya lampu lima watt tergantung di depan teras sebuah rumah berwarna kuning gading. Rumah itu baru saja selesai dibangun dan menurut si pemilik, rumah tersebut sengaja dibangun dengan konsep minimalis biar lebih gampang mengontrol dan mengurusnya. Rumah tersebut hasil karya sang anak calon Arsitektur, saat ini sedang di bangku kuliah. Pak Dusun – si pemilik- rumah mungil itu lebih senang tipe rumah seperti itu.
“ Rumah yang besar susah sekali mengurusnya, semakin besar rumah itu akan membuka peluang bagi banyak maling. Sebaliknya juga, semakin kita ingin memperbesar rumah maka akan membuka peluang untuk kita menjadi maling. Jadi susah Bapa-Bapak kita hidup di tengah kampung apalagi seperti Kampung Bawah kita ini “ Ucap Kepala Dusun disambut tawa beberapa tamu yang hadir.
Malam itu, rumah Pak Maryo Kepala Dusun Kampung Bawah sengaja dijadikan tempat pertemuan aparat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda. Wajah-wajah mereka sekilas tampak penuh dengan kegelisahan, masalah, kemarahan, dendam sampai sumpah serapah. Ulah beberapa warga di Kampung Atas sudah sangat mengecewakan dan mengundang diskusi karena banyak merugikan warga Kampung Bawah.
Desas-desus tentang Maling yang santer dibicarakan, sangat mengusik warga Kampung Bawah karena sudah berkali-kali mereka menjadi korban. Mengerikan lagi, isu yang berkembang, Maling-Maling tersebut bisa berubah seperti kecoak, rayap bahkan bisa seperti tikus. Mengerikan tapi para Maling tersebut menggunakan segala cara untuk membobol brankas masyarakat di Kampung Bawah yang nota bene hidup serba kekurangan tapi justru sangat ditopang dari isi brankas itu.
Beberapa bulan lalu muncul seperti Celeng -babi hutan- merusak tanaman jagung dan perkebunan. Warga di Kampung Bawah sangat menderita karena ulah celeng-celeng itu. Mereka melapor ke Kepala Dusun, Kepala Desa dan Camat. Bahkan sudah sampai di meja eksekutif dan legislatif. Celeng-celeng tersebut tidak saja merusak tapi telah mencuri dan mengambil sesuatu yang bukan hak dan milik mereka.
Di beberapa bagian urusan publik, para Maling itu bisa berubah menjadi rayap yang melahap habis isi brankas. Akibatnya Masyarakat Kampung Bawah ada yang belum merasakan enaknya berjalan di ruas jalan mulus tanpa merasakan sakit karena berbatu. Rayap-rayap itu juga pintar mengelabui, susu untuk masyarakat Kampung Bawah dilahapnya sampai setengah dan sisanya baru dibagikan. Otomatis dari dulu hingga kini masyarakat Kampung Bawah terlihat kurus-kurus dan kekurangan gizi karena gizi diperoleh tidak sesuai takaran.
Pertemuan malam itu di rumah Pak Dusun terjadi lantaran celeng-celeng itu sudah tidak bisa dibasmi. Bahkan kecoak melahirkan kecoak dan lebih ganas. Selain itu mereka sengaja membuat lapuk rumah-rumah masyarakat Kampung Bawah sehingga makin banyak rayap menjadi Maling di sana. Ada apa dengan pembangunan masyarakat di Kampung Bawah?
“ Dengar-dengar Kampung kita akan kedatangan sinterklas baru, kita harus bisa menyusun strategi untuk mengatasi para Maling. Kita harus membuat pagar yang aman biar celeng-celeng itu jangan sampai merusaknya. Kecoak-kecoak itu kita bakar karena kalau seperti ini terus kita hanya memperoleh ampas susu beku, bau dan rasanya asam. Benar-benar tidak mengenakkan untuk kita warga Kampung Bawah.” Kata Pak Dusun di pertengahan rapat malam itu.
Dengan gegap gempita Pak Muchlis si pendatang menyambut ucapan Pak Dusun. “ Wah…wah…ini baru pisau untuk para Maling kelas kakap. Tapi eits…tunggu dulu karena kemarin malam celeng-celeng itu sudah berkeliaran. Mereka sudah mencium aroma mawar itu dan memang mereka sudah tahu dari bangsa celeng yang lain. Para celeng ini juga memiliki sesepuh celeng dan lebih berpengalaman. Woalah….lantas bagaimana Pak Dusun merencanakan hal itu. Bukannya itu seperti membuat mata air sendiri dan hasilnya tetap mengaliri air mata untuk warga masyarakat Kampung Bawah sebab dari dulunya hanya jadi penonton.”
“ Kita ini sudah miskin, hampir bangkrut karena ekonomi di Kampung Bawah memburuk terus, dan kenapa selalu saja ada Maling? “ Ucap Pak Agus, wakil dari RT 01.
“ Bagaimana kalau kita buat kawat berduri biar para celeng itu jerah sekalian biar mereka mampus dan semua kecoak serta tikus kita bakar ramai-ramai, “ lanjut Pak Agus setengah emosi.
“ Eits, Jangan main hakim sendiri para celeng di Kampung Atas punya hukum berkelok-kelok seperti usus celeng dan tikus jadi agak susah. Ini rumit karena maling semakin banyak. Lihat saja nanti banyak burung gagak akan ramai di kuburan karena akan banyak bangkai di sana dan bakal jatuh bangkrut Kampung kita jika masih ada maling seperti celeng, kecoak, tikus dan rayap,” tambah Pak Yos Tokoh Masyarakat Kampung Bawah.
Beberapa jam kemudian datang Ibu Mario bersama anak gadis semata wayang menyuguhkan minuman penghangat. Udara di luar semakin dingin. Tapi wajah-wajah tamu malam itu terlihat sedikit berkeringat. Bau aroma melati semakin menambah romantisme horor – heroic. Yah cahaya lampu lima watt itu semakin menguning seperti telur ceplok. Lolongan anjing semakin menambah gelisah karena Maling semakin banyak berkeliaran, sementara satu pun Maling belum tertangkap warga Kampung Bawah.
Tiba-tiba dari jauh suara kring-kring bunyi lonceng tandanya maling memasuki Kampung Bawah. Teriakan,
“maling…maling…”
malaing ramai di seluruh penjuru kampung. Orang-orang ramai dan petugas keamanan datang melapor ke Pak Dusun.
“ Maaf Pak, tadi ada maling seperti celeng pak di bawah jembatan yang akan dibangun. Mereka ingin mengambil keuntungan dari besi baja itu pak dan kami tidak bisa menangkapnya, karena….karena…karena kami sudah dihadiahi radio biar tidak kesepian saat bertugas.”
Oalah…dasar celeng keciprut, sontoloyo. Para Maling itu menyerupai celeng liar dan pandai perdaya siapa saja. Termasuk para pemegang panah dan tombak pun layu di ujung tumpulnya otak mereka sendiri. Bahkan semua masyarakat sudah dibuat kerasukan dan ketakutan dengan gaya bertopeng mereka ala Zorro.
Malam itu udara dingin sekali, dari balik daun jendela terdengar suara teriakan,
“celeng….celeng….maling…maling”,
serentak semua sadar tapi suara itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Oh Tuhan separah itu perbuatan Maling-maling itu, hingga kegelisahan dan ketakutan telah menjadi bagian masyarakat kecil. Sementara maling-maling itu di rumahnya asyik menyeruput kopi dan menghemburkan asap rokok. Kakinya dilipat sambil menghitung uang berlimpah sampai tumpah ruah.
Di sisi lain ada warga hidup berkalang tanah hingga matipun menderita karena tidak memiliki apa-apa. Maling-maling itu telah lahir dari sebuah rahim yang terlalu subur. Mereka semakin bertambah dan tak akan pernah berkurang. Selamat Tinggal Kemakmuran dan Selamat Datang para Celeng di kebun rakyat.
-End-
kirim ke teman | versi cetak
Penyuntingan oleh editor Kartunet.com
Untuk mengirimkan hasil karya anda agar dipublikasikan di situs kartunet.com, silakan klik Kirim Karya Komentar karya
Tidak ada komentar tentang karya ini.
Formulir pengisian komentar
Aturan :
Kode HTML tidak diperbolehkan.
Dilarang pula menggunakan tanda baca, kecuali tanda titik \".\", koma \",\", kurung buka tutup \"()\", dan tanya atau seru \"? !\".
Baca juga:
|
|

Submit Your Site Here
» Add Link
» Browse link
|