Total pengunjung : 1967196 orang
|
Klik : 3810920 kali |
Bulan ini : 2002 orang |
Hari ini : 74 orang |
Sedang On-line : 7 orang |
Buat yang belum gabung di millis kartunet club,
silakan kirim email kosong ke alamat kartunetclub-subscribe@yahoogroups.com
Dapat banyak keuntungan dengan bergabung di kartunet club,
dan temukan ratusan kartunetters untuk diajak diskusi..
|
|
|
Cerpen : Sprei, Mesin Cuci & Tikus Masuk pada hari Selasa, 02-Juni-2009 - oleh : Fina Merliane
Dibaca 293 kali
Berawal dari kehidupan seorang ibu yang dipersulit hidupnya dengan sepray yang dimilikinya. Banyak kejadian yang selalu menimpanya. Seperti apa ceritanya?silakan baca!
---
Aku menyukai hal-hal kecil dalam hidupku. Seperti bau tanah yang muncul ketika hujan baru saja turun setelah sekian lama kemarau, aroma kopi di pagi hari, busa shampoo yang melimpah di kepala anakku ketika kumandikan, atau gelombang semangat saat jemariku merasakan tekstur kertas pada buku yang baru saja mulai aku baca. Hal-hal kecil seperti itu terkadang secara ajaib bisa mengubah moodku yang sebelumnya berada di level terbawah menjadi sedikit lebih baik. Setidaknya aku selalu bisa tersenyum sendiri setelah mengalami salah satu dari peristiwa itu.
Salah satu hal kecil yang bisa menimbulkan rasa nyaman dan menyenangkan bagiku adalah, sensasi yang kurasakan di kakiku ketika merebahkan diri pada kasur yang baru diganti spreinya. Rasanya aku bisa tidur lebih nyenyak dan bangun dengan lebih siap menghadapi masalah apapun yang menghadang. Aroma cairan pelembut yang sedikit terdeteksi oleh indra penciumanku menghasilkan sensasi yang hampir sama seperti aroma therapy yang biasa dijual orang di toko-toko pot pouri yang pernah aku singgahi.
Namun pergantian sprei baru pada kasurku tidak selamanya berjalan lancar. Aku yang memiliki dua anak balita selalu saja mengalami kesulitan untuk mempertahankan aroma pewangi pada spreiku bertahan lebih dari satu jam setelah dipasang. Apalagi 3 anak kakak iparku yang selalu main ke kamarku setiap pagi dan sore saat mereka makan, selalu berhasil menjadikan kasurku arena trampolin untuk mereka meloncat-loncat dengan, entah sengaja atau tidak, menyemburkan makanan yang ada di mulut mereka. Dalam beberapa hari di antara rutinitas mereka di atas kasurku, selalu saja ada yang muntah atau ngompol dengan meninggalkan lingkaran pulau yang besar pada spreiku.
“Dewi, kamu mau nurunin sprei lagi?” Demikian mertuaku bertanya dengan nada sedikit lebih histeris daripada yang seharusnya menurutku. “Baru dua hari yang lalu kamu nurunin sprei, kok udah ganti lagi?”
“Habis tadi Tomi muntah ma, dan isi muntahnya ikan tuna. Pasti bau amis kalo cuma disikat aja,” demikian aku berusaha menjelaskan.
“Tapi kan kasian si Inah nyucinya. Sprei kamu tuh ukuran ekstra king. Dia kan nyuci pake tangan. Kalau saja mesin cuci kamu itu sudah betul sih, nggak apa-apa. Tapi kan ini tenaga manusia, Wi. Susah lho nanti kalau dia nggak mau nyuci di tempat kita. Dia udah megang tiga pintu lho, Wi.”
Kali ini aku terdiam. Aku juga sebetulnya bingung dengan kondisi ini. Terkadang aku memang suka membawa spreiku ke laundry supaya tukang cuciku tidak perlu mencuci sprei jika tumpukan cucian sudah menggunung. Kalau saja aku tidak bekerja, pasti aku sudah mencuci sendiri sprei itu. Tapi gajiku sebagai petugas administrasi di sebuah percetakan kecil tidak mencukupi jika aku harus selalu membawa spreiku ke laundry setiap saat. Uang 12 ribu untuk membayar laundry itu kan bisa kugunakan untuk membelikan kedua anakku biskuit atau sekedar uang jajan mereka selama beberapa hari. Sedangkan mesin cuci hadiah perkawinan dari orangtuaku memang sudah sekian bulan rusak. Dan sudah beberapa kali aku sampaikan pada Andi suamiku untuk diperbaiki, tapi jawabannya tetap sama.
“Percuma aja diperbaiki. Terakhir diperbaiki kan udah keluar 400 ribu, cuma bertahan seminggu. Eh, rusak lagi gara-gara kabelnya digigitin tikus. Kalau tikusnya masih ada, biar diperbaiki berkali-kali sih akan tetap rusak, Wi.”
“Kalau begitu ya basmi dong tikusnya!”
Tapi jawabanku itu tertahan di kerongkongan. Percuma. Andi, setelah setahun pernikahan aku baru menyadarinya, bukanlah tipe pria yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan rumah. Ia tidak begitu peduli jika ada kecoak atau tikus berkeliaran di rumahnya selama mereka tidak muncul di depan matanya langsung. Tidak saja mesin cuci, sepeda Tomi yang rusak pun sudah 2 bulan tidak disentuhnya. Hal yang sebetulnya bisa ia perbaiki sendiri, tapi untuk membawanya ke tukang reparasi saja ia selalu berlaku seperti lupa. Sedangkan aku yang memang tidak pernah menyukai perdebatan, merasa hanya cukup mengingatkannya tidak lebih dari dua kali. Jika tetap diacuhkan, aku hanya bisa mengeluh dalam hati.
Merasa tidak berdaya dengan kondisi itu, aku tetap mencuci spreiku setidaknya paling lama empat hari sekali. Aku juga tidak mau kedua anakku tidur di sprei yang sudah penuh kuman dan rentan dikunjungi serangga-serangga kecil yang bisa menggigit mereka.
Suatu ketika aku menceritakan hal itu dari salah banyaknya hal yang biasa aku ceritakan padanya setiap minggu, ibuku mengerutkan keningnya.
“Apa kamu nggak bisa suruh mereka nggak main di kamar, Wi?”
“Susah, ma. Tomi kan senengnya main di kamar soalnya kamar ada ac-nya. Main di luar sih tetep main. Tapi biasanya nggak lama. Soalnya Oma takut mereka keserempet kendaraan atau diculik. Sekarang kan di berita banyak hal-hal begitu. Kalau Tomi maunya main di kamar, mau nggak mau yang lain juga ikut main di kamar.”
“Tapi kan kamar itu ruang yang sangat privat. Kamu nggak bisa membiarkan semua orang termasuk para pembantu ipar kamu lalu lalang seenaknya. Bukannya berburuk sangka, tapi kalau suatu saat handphone kamu atau dompet kamu hilang lagi kayak dulu, siapa yang mau disalahin?”
Dulu aku memang pernah kehilangan handphone dan uang dalam dompet karena dibawa lari oleh pembantu yang baru dua hari bekerja di rumah. Peristiwa itu membuat mertuaku histeris dan sejak saat itu tidak mau lagi mengambil pembantu.
“Kamu sekali-sekali harus bersikap tegas dong, Wi,” desak ibuku lagi. “Buat aturan yang tegas supaya orang nggak seenaknya lagi sama kamu. Jangan terlalu lembek!”
Tapi kamar itu bukan kamarku, bisikku dalam hati. Rumah itu bukan rumahku. Aku bukan nyonya rumah di sana. Itu rumah mertuaku. Mana mungkin aku menyuruh cucu-cucunya untuk tidak bermain di kamar itu? Kamarku sudah terbiasa dijadikan markas besar bagi setiap orang yang berkunjung ke rumah itu karena satu-satunya yang memiliki pendingin ruangan dengan mendapat cahaya yang cukup dari dua jendela besar yang menghadap ke taman. Kamar mertuaku saja tidak ada pendingin ruangannya karena ia tidak terbiasa dengan dinginnya AC. Sedangkan ruang keluarganya sedikit gelap sehingga banyak nyamuk dan ruang tamunya terlalu banyak barang pecah belah sehingga tidak bisa dijadikan arena bermain anak-anak. Karena itu kamarku lah yang paling favorit dijadikan tempat berkumpul saudara-saudara Andi jika mereka datang.
Jujur, aku sama sekali tidak keberatan jika kamar itu dijadikan tempat berkumpul. Aku yang hanya memiliki satu kakak yang tinggal berjauhan merasa kehangatan yang menyenangkan saat berada di antara saudara-saudara Andi yang berkumpul dengan anak-anak mereka. Seperti memiliki sebuah keluarga besar. Mengganti sprei setiap hari pun rela aku lakukan jika hanya itu yang harus kuhadapi. Tapi memikirkan tenaga Inah, mesin cuci yang rusak, binatang pengerat yang membandel dan kecenderungan mertuaku untuk mengungkit hal itu setiap saat membuat rasa bersalah di dada semakin membuncah. Masalah yang sebenarnya mudah untuk diselesaikan. Perbaiki mesin cucinya, dan basmi tikusnya, maka mertua pun tidak akan berkoar-koar lagi dengan masalah itu (kemungkinan besar ia akan menemukan masalah lain untuk diungkit-ungkit, tapi hal itu bisa dipikirkan belakangan). Tapi keputusan itu tidak berada di tanganku, tapi di tangan Andi.
“Pap, kamu jadi ambil cuti dua hari untuk ulang tahun Tomi kan ya?” Suatu hari aku memulai percakapan dengan Andi ketika ia sedang memandangi Tomi yang sedang asyik bermain dengan adik kecilnya, Dion.
“Jadi sih, kan udah dijadwalkan sejak beberapa bulan yang lalu.” Katanya sambil terus asyik memandangi kedua putranya.
“Acara makan-makan dengan keluarganya kan hari Jumat pas ulang tahun Tomi. Kamisnya kamu sudah libur kan? Sambil cari kado Tomi, bagaimana kalau kita bawa mesin cuci untuk diperbaiki di bengkel resminya?”
Andi mengerutkan keningnya. “Nanti kalo udah dibetulin terus rusak lagi sama tikus-tikus itu, gimana?”
“Justru itu kali ini kita perlu ke bengkel resminya. Minta untuk dibuatkan lapisan penutup anti tikus atau bagaimana lah caranya…”
“Kamu asal aja ngomong.. Mesin cuci kita itu sudah ada teknologi anti tikusnya sejak dibuat. Tapi tetap saja kalah sama akal tikus-tikus sialan itu.” Andi seperti tidak sabar mendengar penjelasanku.
“Tapi kan setelah itu kita bisa pindahkan mesin cuci itu ke tempat yang lebih tinggi Pap. Kita minta aja Mang Dadang untuk dibikinkan semacam stagger yang bisa meninggikan mesin cuci itu. Nggak perlu kamu yang bikinkan. Biar aku yang bicara sama Mang Dadangnya.”
Kali ini aku berhasil mengalihkan pandangan Andi ke arahku. Tapi cuma sebentar, lalu ia kembali memandangi Tomi dan Dion. Tapi meski sebentar, aku menangkap ketersinggungan dan sebersit raut melecehkan yang segera hilang dari wajahnya. Ada sesuatu yang menciut sekaligus meradang di dadaku, tapi aku tetap diam menunggu.
“Bengkel resminya di mana?” Setelah sekian lama terjadi keheningan, terdengar jelas keengganan dalam suaranya.
“Di Manggarai ada kok. Kan sekalian kita cari sepeda buat Tomi.”
Andi terdiam cukup lama sambil matanya tak lepas memandangi kedua jagoannya bermain.
“Ya sudah kita lihat saja nanti.”
Jawaban itu sudah cukup bagiku. Aku sudah punya alamat lengkapnya dan yakin tidak akan sulit menemukannya jika sudah sampai di sana.
Seminggu kemudian, aku merasa ada sebuah batu yang besar tercabut dari rongga dadaku. Mesin cuci sudah selesai diperbaiki dan Mang Dadang telah membuat penyangga untuk meninggikan posisi mesin cuci. Inah sudah mulai diajari bagaimana menggunakan mesin cuci dan rasa bersalahku sudah berkurang ketika mengganti sprei.
Tapi itu tidak berlangsung lama. Hanya sepuluh hari sejak mesin cuciku beroperasi, dan suatu pagi..
“Bu.. Mesin cucinya kok nggak bisa nyala lagi, bu?” Demikian Inah bertanya pagi itu.
“Ah, masak..” Aku langsung waspada mendengar nada bingung Inah dan segera menuju ruang cuci. Di sana sudah ada mertuaku yang sedang berjongkok sambil melongok ke kolong mesin cuci.
“Dewiii… ini gimana sih? Mang Dadang kurang tinggi nih buatin penyangganya. Kabel-kabelnya keluar-keluar nih, Wi.. Kayaknya udah digigitin lagi sama tikus. Ya ampuuun.. Tikus kurang ajar! Sampe kabel aja dimakan juga.. Tikus macam apa itu?!”
Aku cuma bisa memandang lemas ke mertua dan mesin cuci itu. Masih kudengar mertuaku terus menggerutu memaki-maki tikus yang tidak tahu rimbanya saat ini. Sudah terbayang saat Andi pulang nanti akan kudengar gerutuan yang sama darinya tentang berapa biaya yang sudah dikeluarkannya untuk memperbaiki mesin cuci itu. Entah bagaimana ada perasaan bersalah yang aku tahu seharusnya tidak perlu aku rasakan. Tapi entah, rasa itu tetap saja merayap menguasai seluruh inderaku dan membuatku merasa tak berdaya.
Tanpa sadar aku berjalan ke kamar, mengganti pakaian, meraih dompetku dan melangkahkan kaki keluar rumah. Teriakan Tomi memanggilku terdengar sayup-sayup di telingaku. Tapi ketika mertuaku memanggil, aku segera tersadar .
“Inah harus mencuci pakai tangan. Kamu jadi mau nurunin sprei? Sekarang mau ke mana kamu, Wi?”
Aku terdiam sesaat, bingung mau menjawab apa. Tapi tiba-tiba terlintas jawaban yang menurutku pas untuk saat itu.
“Mau beli sprei.”
kirim ke teman | versi cetak
Penyuntingan oleh editor Kartunet.com
Untuk mengirimkan hasil karya anda agar dipublikasikan di situs kartunet.com, silakan klik Kirim Karya Komentar karya
Tidak ada komentar tentang karya ini.
Formulir pengisian komentar
Aturan :
Kode HTML tidak diperbolehkan.
Dilarang pula menggunakan tanda baca, kecuali tanda titik \".\", koma \",\", kurung buka tutup \"()\", dan tanya atau seru \"? !\".
Baca juga:
|
|

Submit Your Site Here
» Add Link
» Browse link
|