| home | menu | content | New Version

Get Over The Unlimitted Limit

MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS

logo kartunet

A carpenter is known by his chips - Jonathan Swift

Rabu, 8 September 2010 | jam 19:39:15 WIB

Google

   

HOME


About Us
Download
Web Links
Creation
Articles
RSS Feed
Help
Site Map
Partners
Donation
Organizations
Administrator


   

INTERACTION


Guest Book
Feed Back
Contact Us
Suka-suka
Curhat
Mailing List
FAQ


   

PROFILES


Vision & Missions
Board Members
History
Activities
Friendster


   

Amusement


Horoscope
Hangmen game
Puzzle
Tetris
Zodiak


   

Facilities


Facebook
Discussion Forum
Search tool
Free Web Hosting


   

kartunet creations

86 buah Cerpen
382 buah Puisi
64 buah Esei
66 buah Cerita Lucu
39 buah Cerita Bersambung

   

kartunet news

14 berita Politik
12 berita Sosial & Ekonomi
5 berita Olahraga
9 berita Seni dan Budaya
19 berita Iptek
12 berita Sastra dan Bahasa
5 berita Pendidikan
13 berita Serba-serbi

   

Polling

Bagaimana kecepatan akses situs kami di tempat anda?

Cepat
Cukup cepat
Lambat
Sangat lambat


   

Web Stats

  Total pengunjung : 1966748 orang
  Klik : 3810172 kali
  Bulan ini : 2021 orang
  Hari ini : 70 orang
  Sedang On-line : 7 orang

   

Announcement

Buat yang belum gabung di millis kartunet club,
silakan kirim email kosong ke alamat kartunetclub-subscribe@yahoogroups.com

Dapat banyak keuntungan dengan bergabung di kartunet club,
dan temukan ratusan kartunetters untuk diajak diskusi..

Cerpen : Karena Wanita Ingin Dimengerti


Masuk pada hari Jumat, 09-Juli-2006 - oleh : Esma Mahmudya
Dibaca 4442 kali

”Wanita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus selalu dihargai, dijaga, dan disayangi” ”Ger, gue mau cerita” Pras menatap sobatnya Gerry, dengan penuh harap. Namun, yang ditatap hanya menyeruput es teh manisnya dan tidak menjawab. Pras merasa jengkel. Budek ya ini orang? ”Ger, lu mau denger cerita gue ga?” ”Nggak ah”, jawab Gerry dingin. Pras terkejut, ”Kok nggak?” ”Bosen. Pasti tentang cewek, lagi kan?” ”Ya elah...wajar kali kalo sesama cowok ngomongin cewek. Emangnya napa sih, lu kayaknya anti banget sama yang namanya cowok?” ”Gue mau tanya dulu sebelumnya. Cewek itu apa istimewanya, sih?”, Gerry menyemprot balik. ”Lu kok nanyanya bego amat sih? Cewek itu lebih wangi, lebih baik, dan lebih eenak diliat daripada laki, makanya kita demen sama cewek”, jawab Pras berapi-api. ”Jawaban bodoh”, komentar Gerry sambil kembali meminum tehnya. ”Trus, apa dong jawaban yang pinter menurut lu?” ”Coba lu pikirin. Adam kenapa diusir dari surga? Gara-gara Hawa minta dia ngambil buah, kan? Temen kenapa pada bunuh-bunuhan? Gara-gara cewek, kan? Lu belum pernah denger ya, kalo misalnya penghuni neraka itu lebih banyak cewek?”, Gerry setengah berteriak. Beberapa siswa cewek di sekeliling mereka nampak melotot ke arah Gerry. Dengan gugup, Pras menepuk lengan Gerry, ”Kecilin suaranya! Kan ga enak kalo ada yang denger?” ”Ah, ga pada denger ini” Gerry melanjutkan makannya, seolah tidak terjadi apa-apa. Masih penasaran akan pernyataan kontroversial temannya, Pras lalu bertanya, ”Trus, gimana nanti kalo lu mau nikah? Apa lu mau sama cowok?” Gerry menghabiskan makanannya, lalu berdiri, ”Ya, nggak gitu juga! Paling nanti gue jadi bujangan aja. Udah ya, gue mau ke toilet dulu” Lalu, ia melenggang keluar kantin sekolah, diikuti pandangan bengong dari Pras. *** Saat berjalan pulang dari sekolah, Gerry sibuk melamun. Sambil menendang-nendang kerikil di jalan, ia berpikir, ”Kenapa ya, gue beda sendiri sama temen-temen gue? Mereka suka banget ngomongin cewek, pacaran sama cewek, mikirin cewek. Sementara gue...denger kata cewek aja sudah eneg!” Gerry mengambil kesimpulan bahwa itu pastinya berakar dari kehidupan keluarganya. Di rumah, ia tinggal bersama empat orang wanita sekaligus: ibunya (yang menurut Gerry cerewet dan galak), kakak permpuannya (yang sok ngatur dan suka main perintah), serta kedua adik perempuannya (yang bandel dan cengeng) Karena bapaknya sibuk bekerja sepanjang hari, otomatis Gerry harus berhadapan dengan para wanita itu sendirian. Ketika tumbuh sampai kelas 2 SMA, Gerry juga seolah kebal akan pesona dari lawan jenisnya. Ketika teman-temannya sibuk bergonta-ganti pacar, ia malah menganggap cewek sebagai makhluk-makhluk manja, tukang porotin, dan mau enaknya saja. Dan itu bukan cuma dari pemikiran dia sendiri! Ia sudah melihat pengalaman teman-temannya, yang entah sudah berapa orang hatinya dihancurkan oleh para ’iblis berwajah malaikat’. Gerry menghentikan lamunannya saat tiba di depan rumah kediamannya. Sambil menghela nafas, ia membuka pintu rumah... ”Gerry, ke mana saja kamu jam segini baru pulang? Ibu kan pesen kamu supaya cepat pulang, jagain adik-adikmu!” ”Maaf deh Bu”, sahut Gerry sambil melirik ke arah ibunya, yang sedang bersiap-siap mau kondangan. ”Makanya, cari pembantu saja. Supaya gampang, selalu ada yang jagain Evi sama Vivi” Ibunya berhenti membetulkan kebayanya dan memelototi Gerry, ”Ngomong saja kamu! Duitnya dari mana? Lagipula, apa gunanya Ibu punya anak lelaki?” Lho? Kalau begitu, apa anak perempuan tidak ada gunanya? Itulah yang ada di benak Gerry, tapi dia tidak berani mengucapkannya. Bisa-bisa didamprat nanti. ”Iya deh, iya deh...” ”Nanti, jangan lupa kerjain PR! Jangan nonton TV terus. Suruh adik-adikmu makan dan nanti tidurnya jangan pada telat. Sudah itu...” Setelah kira-kira ratusan nasehat keluar (yang semuanya ditanggapi Gerry dengan manggut-manggut), barulah Ibu meninggalkan rumah. ”Hati-hati ya, jagain rumah dan adik-adik. Assalamualaikum...” ”Walaikumsalam...”, jawab Gerry sambil beranjak ke depan TV. Di sana, sudah ada Evi dan Vivi yang asyik nonton kartun. ”Tumben pada anteng, biasanya grasa-grusu ke mana-mana”, pikir Gerry. Ia segera duduk, mencomot remote, dan mengganti saluran TV. ”Kak Gerry, kita kan lagi nonton!”, Vivi memprotes. ”Sebentar aja kok...”, gerutu Gerry sambil mengganti-ganti saluran TV. Appan nih acaranya? Miss Indonesia? Huh, seharusnya diganti jadi Miss Munafik. Acara kuis? Nggak minat, pesertanya cewek-cewek berpakaian seronok gitu. Film India? Apa lagi, ceweknya pake acara muter-muter tiang segala! Sinetron...? ”Ratna, apakah kamu benar-benar mencintaiku?”, tanya seorang cowok di sinetron itu. ”Pasangannya menjawab tanpa ragu, ”Ya Mas, aku mencintaimu. Cintaku lebih dalam dari samudra terdalam, lebih tinggi dari langit, dan lebih indah dari pelangi...” Gerry tidak tahan untuk berkomentar, ”Huh, bego lu. Dia itu Cuma mau morotin lu doang tau! Aturan dia juga ngomong ’dan tidak ada yang lebih menggiurkan dari isi kantongmu’!” Vivi bertanya heran, ”Kok bgomong sama orang di TV, kak? Emangnya dia denger, ya?” Gerry hanya melotot ke adiknya. ”Nih, remotenya. Nggak ada yang seru!” Dengan sigap, Vivi langsung menyambar remote dan mengganti kembali ke saluran kartun. Sementara, Gerry beranjak dari ruangan menuju ke kamarnya. ”Kak Gerry, kakak mau ke mana? Di sini aja!”, teriak Evi, adik Gerry yang paling kecil. ”Kak Gerry capek, mau istirahat. Kalau mau makan, ambil aja sendiri di dapur” Evi berlari-lari kecil ke arah Gerry, ”Kak, coba liat dulu gambar Evi. Bagus ga?” Gerry menatap tanpa minat pada kertas kumal yang dipegang Evi. ”Nanti aja ya...” ”Tapi Kak...!”, protes Evi. ”Evi, Kak Gerry lagi capek! Kalo mau kasih liat gambar, besok aja!” Tanpa menghiraukan ekspresi nelangsa adiknya, Gerry masuk kamar dan langsung membaringkan diri di tempat tidur. Seandainya tidak ada wanita di dunia ini... *** Keesokan harinya. Seperti biasa, Gerry terbangun pukul lima tiga puluh. Dan seperti biasa pula, ia ngulet-ngulet dulu selama seperempat jam sebelum sepenuhnya tersadar. Tapi, ada sesuatu yang sangat tidak biasa pagi itu... Pagi itu, badannya terasa aneh. Kepalanya terasa berat, dan dadanya terasa tidak nyaman. ”Kenapa nih badan gue...?”, gumam Gerry pada dirinya sendiri. Lho? Kok suaranya juga kayaknya beda ya? Dengan waswas, Gerry meraba kepalanya dan terkejut setengah mampus! Sejak kapan rambutnya jadi gondrong begini? Lalu, ia memegang-megang dadanya yang juga terasa aneh. Muka Gerry langsung pucat. Rasanya seperti... Setengah melompat dari tempat tidur, gerry langsung memelototi cermin di kamarnya. ”AAAAHHH! GUE JADI CEWEK!!” Seketika, pintu kamar Gerry terbuka dan ibunya melangkah masuk dengan jengkel. ”Gabby, ada apa sih kamu? Bukannya siap-siap ke sekolah, malah jerit-jerit ga keruan!” ”Bu, aku...”, tiba-tiba Gerry terdiam. Tunggu sebentar! Tadi, ibunya memanggil dia apa? ”Bu, tadi manggil aku apa ya?” ”Ya ampun, masa lupa nama sendiri? Sudah deh Gabby, buruan kamu mandi. Nanti telat!” Dan Ibu pun keluar sebelum Gerry sempat berkata apa-apa lagi. Gerry terduduk lemas di tempat tidur. Apa sebenarnya yang terjadi? Apa dia kena semacam virus berbahaya yang dapat mengubah kelamin seseorang? Tapi, masa ibunya tidak berkomentar apa-apa! Pokoknya, harus ada yang bisa menjelaskan ini semua! Gerry bangkit dan berjalan untuk membuka pintu lemarinya. Ia nyaris pingsan begitu melihat isinya: BH, rok, blus, daster, kerudung, dan segala macam aksesoris perempuan! Sambil mengerang, ia mencomot seragam sekolahnya dan...sejenis pakaian dalam. ”Masa gue harus pakai beginian...?” Tapi kengerian sebenarnya baru muncul saat dia sudah keluar kamar dan masuk ke kamar mandi. Gerry melepas semua bajunya dan menatap ke bawah, ke ’tubuhnya yang baru’. Seketika, ia kembali menjerit, ”AAAAHHH!!” Ibunya, yang sedang menyiapkan sarapan, menatap sewot ke pintu kamar mandi. ”Kenapa sih itu anak?” *** Gabby (mulai sekarang, kita panggil saja dia begitu) melangkah gontai ke arah sekolahnya. Pikirannya masih berkutat seputar persitiwa super aneh yang terjadi pagi ini. Dan yang paling aneh, tidak ada yang menyadari perubahan pada dirinya! Tadi dia mencoba menjelaskan kejadian ini pada keluarganya ketika sarapan, namun mereka malah mengira ia bercanda. Malah bapaknya sampai ngakak nggak bisa berhenti! Kakaknya, Gina, dengan sinis menuduhnya sakit jiwa, sementara Evi bertanya dengan polosnya ke Ibu, ”Bu, emangnya kak Gabby tadinya cowok, ya Bu?” Gabby terus memutar otak, mencari jawaban yang masuk akal. Tapi, tidak ada jawaban yang bisa menjelaskan perubahan fisik mendadak yang dialaminya. Atau kenapa tiba-tiba keluarganya menganggapnya sebagai anak perempuan bernama ’Gabby’. ”Gabby!” Tidak ngeh namanya dipanggil (rupanya belum biasa), Gabby terus berjalan memasuki gerbang sekolah. Ia sibuk memeras otak... ”Woi, Gabby! Kok nggak nyahut, sih?” Gabby menoleh dan melihat Lina, teman sekelasnya, menghampiri. ”Oh sori, Lin. Ga denger”, jawabnya sambil lalu. Ia sudah hendak melesat pergi, tapi tasnya keburu dicekal Lina. ”Buru-buru amat lu! Eh, nanti jadi ulangan sejarah ga?” Gabby menatap kesal pada Lina. Sok akrab amat ni orang! Biasanya ga pernah ngobrol juga...Tapi kemudian, ia tersadar bahwa ia sekarang adalah Gabby, bukannya Gerry. Wajar kalau sebagai cewek, ia lebih akrab dan dekat dengan teman-teman cewek. ”Oh, gue kurang tau deh. Kayanya nggak jadi...”, Gabby berusaha menanggapi. ”Aduh, mana gue belum belajar lagi! Ngomong-ngomong, kemarin lu nonton film di TVRI ga?” Selama perjalanan ke kelas, Lina terus berceloteh sementara Gabby hanya menanggapi seadanya saja. Diam-diam dia berpikir, ’dasar cewek...kalo udah ketemu sesamanya, ngoceh ga berenti-berenti” Sampai di kelas, Gabby berjalan secara reflek ke arah tempat duduknya di samping Pras. Tapi, Lina keburu mencekalnya lagi, ”Lu mau ke mana? Tempat duduk lu kan di samping gue!” ”Oh iya, ya...”, ujar Gabby, merasa tolol. Ia menaruh tasnya di samping tempat duduk dan melirik ke arah Pras, yang (seperti biasa) sedang nyalin PR. Sementara itu, Lina dan teman-teman di sekelilingnya (Dwi, Ami, dan Okta) sudah asyik ngobrol. Gabby ikut mendengarkan dan mencoba mengikuti arah pembicaraan, tapi nggak nyambung! Ia menatap ke barisan anak cowok di seberang. Rasanya ingin ke sana, tapi ga etis kali ya... ”Gab, kenapa lu? Kok diem aja?”, tahu-tahu Ami bertanya. ”Tau tuh...aneh dia dari tadi”, Lina ikut berkomentar. ”Eh, nggak apa-apa...”, sahut Gabby gelagapan. ”Oh ya, ngomong-ngomong, hasil Liga Champion kemarin gimana ya?” Bukannya menjawab, teman-temannya malah pada bengong. Untunglah, Gabby terselamatkan dari suasana yang tidak enak itu berkat bunyi bel masuk. Guru sejarah, Pak Armin, memasuki kelas dan anak-anak langsung berhenti mengobrol. Selama doa bersama, Gabby memikirkan dilema yang ia alami. Nggak mungkin setiap hari harus begini! Mau jadi apa dia!? Pokoknya, ia harus membicarakan ini dengan seseorang...Doa selesai, dan Pak Armin mulai mengabsen anak-anak. Gabby melirik ke arah Pras. Nanti, ia harus bicara soal ini dengannya. Pras kan sahabatnya, pasti dia percaya omongan Gabby. Pokoknya dia harus percaya! ”Gabby Melati Putri!” Gabby tersentak dan mengangkat tangannya ragu-ragu. ”I-itu nama saya, Pak??”, tanyanya, tidak mampu menyembunyikan shock. Serentak, seisi kelas langsung tertawa mendengar pertanyaan konyol itu. Pak Armin nampak kesal, rupanya ia mengira Gabby sedang main-main. ”Tentu saja itu nama kamu! Masa lupa nama sendiri?” Gabby merasa sangat malu, tapi bukan karena ditertawakan. Ya ampun, masa dari Gerry Satria Putra jadi Gabby Melati Putri?? *** ”Gab, ke kantin yuk. Makan bareng”, ajak Lina begitu bel istirahat berbunyi. ”Lu aja. Gw ada urusan sama Pras”,s ahut Gabby, ngeloyor ke tempat Pras. Di sana, ia menepuk bahu Pras yang sedang ngobrol. ”Ke luar sebentar yuk. Ada yang mau gue omongin” Pras kelihatan kaget, ”Mau ngomongin apa, Gab?” ”Udah, buruan keluar! Ini urusan hidup atau mati, tau!” ”Iya deh, iya...” Begitu di luar, Gabby menghela nafas dan menatap serius ke Pras, ”Oke. Jadi gini...” ”Sori Gab, motong...tapi boleh ngomong sesuatu dulu ga? Sebenarnya, gue udah pengen ngomong itu sama lu dari dulu. Mumpung kita lagi berdua...” Gabby menelan kekesalannya dan berkata, ”Ya udah, mau ngomong apa lu?” Bukannya ngomong, si Pras malah cengengesan nggak jelas dan bergerak-gerak nggak keruan. ”Waduh, gimana ngomongnya ya...?” ”Buruan napa? Gw juga mau ngomong tau!” Tiba-tiba, Pras langsung nyerocos, ”Gini Gab, sebenernya gue suka sama lu. Lu mau ga jadi pacar gue?” Untuk sesaat, Gabby tidak tahu harus berbuat apa. Lalu, ia merasakan dorongan yang sangat kuat untuk menghajar Pras sampai bonyok. Apalagi begitu melihat rombongan anak-anak yang berkerumun di sekitar dan rupanya telah menyaksikan adegan ’penembakan’t ersebut. Mereka bertepuk tangan dan kompak berteriak, ”TERIMA...TERIMA!” Gabby mencekal kerah baju pras dan menyeretnya ke lorong. Sesampainya di sana, ia langsung menyemprot, ”Lu udah gila ya?” ”Gue ga gila. Gue bener-bener sayang sama lu...” ”Tapi, Pras! Ini ga bener! Gue ga mau homo sama lu!” Pras langsung melotot, ”Homo?” Gabby mengumpat dalam hati. Sialan, susah lagi ini jelasinnya! ”Gini, Pras. Gue tau sekarang gue keliatan kayak cewek, tapi gue cowok tulen! Gue Gerry, temen lu dari SD! Masa lu lupa sih?” Pras tidak menyahut, mulutnya hanya mangap mendengar penjelasan Gerry. ”Gue ga tau gimana bisa jadi kaya gini. Lu harus bantuin gue...berhenti mangap napa!?” Pras buru-buru menutup mulutnya, tapi tampangnya masih keliatan bingung berat. ”Sebenernya lu itu kenapa, Gab? Gw ga pernah kenal sama yang namanya Gerry. Yang gw kenal itu lu, dan lu itu cewek tulen bernama Gabby!” Gabby langsung merasa lemas. Ia baru sadar, eksistensi gerry tidak pernah ada di dunia yang satu ini. Tidak ada gunanya meyakinkan Pras atau anggota keluarganya. Bagi mereka, Gerry tidak pernah ada. Entah bagaimana, sekarang semua orang menganggap dirinya sebagai ’Gabby’. Sayup-sayup, terdengar Pras masih bicara, ”Kalo lu mau nolak gue, kan bisa pake cara yang lebih bagus. Ga usah pura-pura jadi cowok segala...” *** Beberapa jam kemudian...Gabby melalui pelajaran-pelajaran berikutnya di kelas, tanpa ada secuil pun ilmu yang msauk ke otaknya. Yang ada di kepalanya hanyalah bagaimana cara untuk kembali ke kondisi semula, dan siapa yang mau mempercayai ceritanya. Tapi, samar-samar muncul suatu pikiran mengerikan di benaknya...jangan-jangan ia sebenarnya memang cewek. Mungkin ia mengalami sejenis hilang ingatan atau semacam oenyakit jiwa yang menyebabkan dirinya mengira bahwa ia lelaki. Bel kembali berbunyi, menandakan mulainya jam pelajaran berikutnya, yaitu olahraga. Gabby hampir saja hendak keluar dari kelas, tapi kemudian ingat bahwa sebagai cewek ia berhak untuk ganti baju di dalam kelas. Maka, ia pun menunggu semua anak cowok keluar...dan mulai menyaksikan anak cewek berganti busana. Seketika, keringat Gabby mengucur deras dan ia merasakan suatu ’tegangan’ dalam dirinya. Ia buru-buru menyambar baju olahraganya dan kabur keluar kelas. Sayup-sayup, terdengar ada yang memanggil, ”Gab, mau ke mana?” ”Mau ganti baju di luar! Sekalian buang air!” Sekarang Gabby yakin 100% bahwa ia cowok. Kalau tidak, mana mungkin ia merasakan hawa nafsu yang begitu besar tadi! Maka, Gabby pun memasuki kamar mandi cewek dan ganti baju di sana. Ia juga menyempatkan diri untuk membuang hajat...walaupund engan sedikit kagok. Begitu keluar, ia sibuk ngedumel sendiri, ”Aneh bener jadi cewek! Mau keluarin kecil atau besar, sama-sama dari belakang!” Berhubung anak-anak lainnya sudah berkumpul di lapangan olahraga, Gabby pun berlari-lari kecil untuk bergabung dengan mereka. Di sana, pak Ajaya sedang menyampaikan menu olahraga hari ini. ”Hari ini, kita akan ambil nilai lari jarak jauh! Anak laki-laki lari 10 lap keliling lapangan, anak perempuan 6 lap!” Seperti biasa, anak laki-laki langsung memprotes, ”Ga adil, Pak! Masa bedanya 4 lap, sih!” Gabby (yang dari dulu paling gedek dengan ’kebijakan diskriminatif’ macam begini) juga langsung berteriak, ”Iya, Pak! Ini ga adil. Masa anak cewek lari Cuma segitu!” Pak Jaya menatap bingung ke Gabby, ”Memangnya, kamu kuatnya berapa lap?’ Gabby menjawab mantap, ”Jangankan 10 lap, 20 lap sekalipun saya jabanin!” Anak cowok langsung bertepukt angan riuh, sementara yang cewek nampak kebingungan. Dwi berbisik ke Lina, ”Si Gabby kenapa sih? Aneh banget hari ini?” ”Nggak tahu”, jawab Lina. ”Salah minum obat, kali!” Sambil geleng-geleng kepala, Pak Jaya menjawab, ”Ya sudah, kamu lari 10 lap. Tapi kalau sudah tidak kuat, boleh berhenti” ”Iya, Pak!” Begitu gilirannya tiba, Gabby langsung mulai berlari dengan penuh semangat. Ia sangat yakin dapat menyelesaikan 10 lap dengan mudah. Waktu masih jadi Gerry, ia adalah pelari tercepat di kelas, dan juga sangat kuat di lari jarak jauh. Kalau Cuma 10 lap sih...kecil! Tapi, suatu keanehan terjadi. Baru 2 lap, napasnya mulai tidak teratur. Gabby sempat bingung, tapi ia cepat menarik kesimpulan. Mungkin karena dia kurang banyak minum air hari ini, makanya staminanya cepat turun. Sebaiknya ia perlambat dulu kecepatan...Tapi tetap saja, napasnya malah ngos-ngosan di lap 4. Dan begitu menyelesaikan lap kelima, jantungnya sudah serasa mau pecah! ”Gila, kok begini! Baru lari 5 lap, tapi rasanya udah kayak tiga kali lipat!”, pikir Gabby kesal. Apa ini karena sekarang ia bertubuh cewek? Sekarang, Gabby baru mengerti kenapa cewek sering diberi keringanan soal fisik dibanding cowok. Rupanya memang, anatomi tubuh perempuan didesain untuk menanggung beban fisik yang lebih sedikit daripada laki-laki. Setelah berpacu dalam tubuh perempuan, barulah Gabby merasakan betul perbedaannya. Tapi tentunya gengsi kalau ia berhenti sekarang. Apalagi seluruh kelas sedang menontonnya, penasaran apakah benar dia mampu menyelesaikan 10 lap. ”Kalau sudah tidak kuat, berhenti saja Gabby!”, perintah Pak Jaya, yang melihat Gabby sudah kepayahan. Gabby menggeleng, dan memaksa diri menyelesaikan lap 6. Anak-anak pun riuh memberi semangat saat Gabby terus meneruskan larinya. Tujuh...delapan...sembilan. Tinggal sedikit lagi...., pikir Gabby. Sedikit lagi! Tapi, ketika hampir selesai, kakinya tersandung. Maka ia pun jatuh terkapar di lapangan. Tepar! *** Begitu Gabby siuman kembali, ia menemukan dirinya sudah di atas ranjang UKS. Di sebelahnya, ada ketua kelasnya Tio. ”Udah bangun?”, sapanya. Gabby mencoba bangkit, dan ia merasakan nyeri di lutut kirinya. Ternyata, ada plester besar di situ. ”Kenapa nih?” ”Tadi lutut lu luka pas jatuh. Nggak apa-apa, cuma lecet kok” Tio nyengir lebar. ”Makanya, jangan sok kuat. Tepar, deh” Gabby melotot ke Tio, lalu celingukan. ”Jam berapa sekarang?” ”Satu jam sejak lu pingsan. Anak-anak lagi pada ganti baju, sementara gw disuruh nungguin lu di sini. Nih, minum dulu”, sahut Tio sambil menyodorkan gelas berisi air mineral berwarna putih. ”Thanks” Gabby menghabiskan airnya, lalu terdiam sejenak. Setelah beberapa saat, ia tiba-tiba berucap, ”Nggak enak jadi cewek” Alis Tio terangkat, ”Kok gitu?” ”Yah, gimana ya...”, sahut Gabby sambil menyelonjorkan kakinya. Ia lalu menangkap ekspresi tidak nyaman di wajah Tio. ”Kenapa?” ”Duduknya yang bagusan dikit dong. Kurang enak diliat nih” ”Oh. Sori, sori”, Gabby minta maaf dan mengganti posisi duduknya menjadi lebih anggun. ”Tadi gue mau ngomong apa ya? Oh ya, jadi cewek itu ga enak. Mereka, eh, kami itu lebih lemah dan lebih harus dibatasin...” Sekonyong-konyong, Tio menjawab, ”Mungkin secara fisik memang bener. Tapi, di bidang lain cewek itu ga lebih lemah daripada cowok. Malah, cewek itu sering bisa bersikap lebih tegar dan kuat dalam situasi yang sulit” Gabby sedikit terkejut mendengar jawaban Tio, ”Oh, begitu ya? Yo, lu kan ga pacaran ya?” ”Nggak. Emangnya kenapa?” ”Kenapa sih cowok pada getol pacaran? Emangnya apa yang dicari cowok dari cewek? Sori nih kalo pertanyaan gw rada aneh”, tambah Gabby buru-buru begitu melihat Tio tidak langsung menjawab. ”Nggak apa-apa. Gimana ya jawabnya...gini deh. Biarpun gue ga pacaran, tapi gue bisa ngerti kenapa anak-anak pada pacaran. Gue sendiri, gue sadar kalo gue butuh banget sama teman-teman cewek gue. Karena dari mereka, gue bisa dapat sesuatu yang gue ga bisa dapat dari temen cowok gue” ”Apaan tuh?”, tanya Gabby penasaran. ”Mereka mampu menyejukkan hati gue. Setiap kali gue punya masalah berat, gue merasa lebih sreg dan tentram kalo cerita sama teman cewek. Pada dasarnya, cewek itu makhluk yang penyayang dan sangat berperasaan. Makanya, mereka selalu bisa menunjukkan perhatian dan simpati pada orang lain. Gue rasa, itulah yang dicari para cowok setiap berpacaran” ”Tapi...cewek itu kan banyak kekurangannya. Masa lu ga tau, kan banyak cewek matre yang pacaran karena ingin morotin cowoknya!” Tio ketawa, ”Itu kan ga semua cewek. Lagipula, udah naluri dasar cewek untuk bergantung sama cowokm makanya wajar kalo mereka bersikap sedikit menuntut. Kalo soal cewek itu suka manja atau cengeng, yah, mungkin karena perasaan mereka kadang mengalahkan logika mereka. Tapi, masih banyak kok cewek yang ga gitu-gitu amat. Apalagi, saat mereka beranjak dewasa, menjadi seorang ibu dan istri. Jadi wanita sejati, istilahnya!” Gabby tertegun mendengar penjelasan Tio. Ia tidak pernah berpikir sampai ke situ sebelumnya. Sambil cengengesan, Tio bertanya, ”Kenapa sih lu nanya begituan? Emangnya mau operasi kelamin jadi cowok, ya?” ”Nggak lah. Gue cuma pengen diskusi aja...” Gabby menimbang-menimbang untuk menceritakan masalahnya pada Tio, tapi ga jadi. Paling-paling, dia ga percaya. ”Ya udah. Balik ke kelas yuk, udah mau ganti pelajaran” Gabby turun dari ranjang dan mengikuti Tio keluar dari UKS. Tiba-tiba Tio berkata lagi, ”Lu pernah denger kan, kalo manusia diciptakan Tuhan saling berpasangan? Laki-laki ada buat memberi rasa aman dan perlindungan pada wanita, sementara wanita ada buat memberi kasih sayang dan menentramkan jiwa laki-laki. Makanya, lu jangan pernah nyesel jadi cewek...” Tanpa sadar, Gabby mengangguk setuju. *** Sepulangnya dari sekolah, Gabby masih memikirkan percakapannya dengan Tio. Entah bagaimana, omongan cowok tersebut begitu menyita pikirannya, bahkan sampai membuatnya lupa sejenak akan masalahnya sekarang. Beigtu tiba di halte tempat ia biasa menunggu bus, ia pun duduk di samping seorang ibu. Dilihat dari perutnya yang membengkak, ibu itu rupanya sedang hamil. ”Baru pulang sekolah, dik?”, sapa si Ibu tiba-tiba. Gabby menjawab sopan, ”Iya, Bu” ”Kelas berapa sekarang?” ”Kelas dua”, Gabby melirik ke perut besar si Ibu, ”Sudah berapa bulan, Bu?” Si ibu mengelus-elus perutnya. ”Sebentar lagi sudah mau keluar, nih! Seharusnya, saya sudah tidak boleh jalan-jalan. Tapi apa boleh buat. Soalnya, ada yang harus dibeli”, ujarnya sambil menunjukkan kantong belanjaannya. ”Memangnya suami Ibu ke mana?” ”Sedang dinas ke luar kota” Gabby agak terkejut. Istrinya sedang hamil, kok malah keluar kota? Si ibu lalu meneruskan, ”Sebenarnya ia ingin tinggal, tapi kantornya tidak mengizinkan. Kemungkinan ia tidak akan ada ketika saya melahirkan, tapi buats aya tidak masalah. Saya tahu kalau ia selalu memikirkan dan mendoakan saya dari sana” Gabby manggut-manggut, mau tidak mau ia kagum juga melihat ketabahan si ibu. ”Ngomong-ngomong, anaknya laki atau perempuan Bu?” ”Wah belum tahu, dik. Tapi mudah-mudahan sih, perempuan. Ibu sudah punya satu anak laki, rasanya kurang afdol kalau belum punya anak perempuan” ”Memangnya kenapa, Bu?”, tanya Gabby lagi. Ibu itu tersenyum. ”Anak perempuan biasanya lebih ingat sama orangtuanya, bahkan setelah mereka sendiri berkeluarga” Gabby teringat pada keluarganya sendiri. Ia sadar nahwa kakaknya, Gina, sangat memperhatikan ibunya. Ginalah yang mengurus Ibu bila Ibu sakit, dan selalu siap membantu mengerjakan segala macam pekerjaan rumah tangga. Sedangkan ia sendiri? Mengurus adik-adiknya saja tiak mau! Tiba-tiba, si ibu mengeluarkan rintihan. Gabby kaget, dan melihat muka si ibu nampak kesakitan. ”Kenapa, Bu?” ”Rasanya ketuban ibu pecah. Berarti, waktunya sudah tiba. Aduh, kenapa mesti di sini...?” Gabby panik. Untuk beberapa saat, ia hanya begong menatap si ibu yang sekarang susah-payah mengatur pernapasannya. Di sela-sela hembusan napasnya, si ibu berbisik, ”To-tolong panggilkan taksi...” Gabby melompat dari tempat duduknya di halte dan memelototi jalan. Untungnya, tidak lama kemudian sebuah taksi lewat. Dan untungnya lagi, taksi itu kosong. Gabby buru-buru menyetop taksi itu, dan menuntun si ibu masuk ke dalam. Begitu si ibu sudah masuk, Gabby setengah berteriak pada supir, ”Ke rumah sakit, Bang! Ibu ini mau melahirkan!” Si supir menoleh ke belakang, ”Rumah sakit yang mana, dik?” Rupanya, ia jadi gugup karena situasi darurat ini. Gabby melotot, ”Yang paling deket lah! Pake nanya lagi!” Ketika Gabby hendak menutup pintu taksi, tiba-tiba si ibu mencengkeram tangannya. ”Tolong temani saya, dik...” Gabby sempat ragu-ragu, tapi kemudian ia segera melompat masuk. ”Tancap, Bang!” Maka, taksi itu pun melesat di tengan hari yang mulai senja. Gabby bertambah tegang melihat si ibu yang nampak makin parah, ”Lebih cepat, Bang!” Mendengar permintaan Gabby, si supir langsung menggeber taksinya. Seketika, taksi itu langsung bergerak dengan kecepatan dahsyat, bagai dikemudikan oleh setan jalanan. Gabby menjadi pucat, ”Woi! Pelanin, Bang!” ”Katanya tadi, suruh ngebut!” ”Iya, tapi kalo gini kita keburu tewas sebelum nyampe!” Supir menurut dan mengendarai taksinya dengan kecepatan tinggi tapi tetap aman. Akhirnya, mereka pun sampai di depan halaman rumah sakit. Gabby dan si supir taksi pun membantu si ibu keluar dari taksi. Teringat ongkos taksi, Gabby merogoh kantong roknya, ”Waduh, duit gue ga cukup lagi!” ”Nggak apa-apa dik. Nggak usah bayar!” ”Makasih ya, Bang!” Lalu, Gabby menuntun si ibu masuk ke dalam rumah sakit, ke bagian persalinan. Di sana, para suster dengan sigap langsung mengambil alih dan menidurkan si ibu di atas ranjang dorong. Setengah berlari, Gabby mengikuti mereka melesat ke ruang persalinan. Begitu sampai dan si ibu dimasukkan ke ruangan, suster menoleh ke Gabby, ”Adik anaknya?” ”Bukan. Tadi ketemu di jalan...” ”Tunggu di luar dulu, ya” Pintu pun ditutup. Gabby berjalan ke samping ruangan dan mengintip persiapan operasi lewat jendela. Ia langsung merasa seram melihat segala macam perangkat operasi yang disiapkan. Lalu, operasi dimulai dan Gabby pun menyaksikan sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan selamanya. Darah yang berceceran di mana-mana...ekspresi kesakitan namun penuh determinasi diw ajah si ibu...perjuangannya antara batas hidup dan mati untuk dapat mengeluarkan kandungan. Gabby mengalihkan pandangannya, tidak sanggup menonton lebih lama. Bagaimana kalau bayinya tidak keluar dengan selamat? Bagaimana kalau si ibu gagal melewati proses ini dan kehilangan nyawanya? Bagaimana kalau keduanya... Berhenti berandai-andai!, perintah Gabby pada dirinya sendiri. Daripada begitu, lebih baik ia melakukan satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk membantu, yaitu berdoa. Maka, Gabby pun duduk dan memanjatkan doa untuk seorang wanita yang sebelumnya sama sekali tidak ia kenal. Detik berganti menit, menit berganti jam. Selama itu, Gabby terus berdoa tanpa henti. Sampai akhirnya, sebuah tangis bayi emmecah kesunyian. Gabby tersentak, dan jantungnya berdegup kencang. Tak lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka dan seorang suster melangkah keluar. Gabby bertanya dengan tegang, ”Gmana, sus?” Suster tersenyum lebar, ”Alhamdulillah lancar. Baik ibu dan bayinya selamat. Masuklah dan lihat sendiri” Gabby menurut dan mengikuti suster ke dalam. Nampak olehnya, seluruh tim bedah yang nampak kelelahan namun puas. Si ibu, yang bercucuran sir mata bahagia, nampak sedang menggendong bayinya. Seorang bayi perempuan yang cantik... *** Beberapa jam kemudian, Gabby masih berada di rumah sakit. Ia duduk di ruang tunggu, sibuk merenung. Peristiwa barusan telah mengubah drastis persepsinya tentang proses kelahiran. Tadinya ia menganggap bahwa itu hanyalah suatu kewajiban biasa yang harus dilewati kaum wanita. Tapi sekarang, ia baru sadar bahwa itu adalah suatu perjuangan untuk melahirkan nyawa baru...walau harus mempertaruhkan nyawa sendiri. Gabby teringat pada ibunya sendiri. Ibunya berarti telah berjuang sebanyak empat kali, untuk mengeluarkan dirinya dan saudara-saudaranya. Itu belum lagi ditambah seluruh cucuran keringat dan darah kerja keras ibunya, yang membesarkan mereka berempat sampai sekarang. Gabby merasa sangat berdosa sekarang, saat ia ingat kalau ia sering berlaku kasar dan membangkang pada ibunya. Tiba-tiba, muncul seorang ibu yang sedang memanggul seorang anak balita. Ia nampak heran melihat Gabby duduk sendirian di ruang tunggu yang gelap itu. ”Belum pulang, Nak? Lagi tungguin siapa?”, tegurnya. ”Tidak sedang tunggu siapa-siapa, Bu. Cuma duduk-duduk saja...Ibu sendiri?” ”Si buyung baru boleh pulang”, sahut si ibu sambil membelai anaknya yang tertidur pulas. ”Sudah ya Nak, suami dan anak sudah nunggu di rumah” Gabby memperhatikan kepergian ibu itu dan kembali merenung. Banyak yang meremehkan status seorang wanita sebagai ibu rumah tangga, padahal sebenarnya justru itulah salah satu pekerjaan yang paling berat dan mulia. Sedangkan masih banyak laki-laki yang meninggikan diri mereka di atas istrinya, karena merekalah yang mencari nafkah. Banyak pula yang kerap menyiksa istri sendiri baik secara fisik maupun mental, tanpa mau mengerti perasaan istrinya yang telah mencurahkan waktu dan tenaganya demi keluarga. ”Huh, dasar laki-laki egois!” Gabby terkejut sendiri mendengar apa yang terucap dari mulutnya. Brasanya belum lama ia berkoar pada Pras tentang keburukan kaum wanita. Sekarang karena peristiwa aneh ini, persepsinya berubah total. Benar-benar aneh... Begitu keluar dari rumah sakit, Gabby mulai menyadari sesuatu. Ternyata, seluruh peristiwa aneh ini ada hikmahnya. Mungkin ini semua adalah untuk mengajarkan padanya suatu pelajaran hidup yang amat berharga. Gabby pun berjanji dalam hatinya, ”Seandainya gue bisa balik lagi jadi cowok, gue bakal lebih menghargai wanita. Gue juga bakal coba lebih ngertiin ibu sama saudari-saudari gue...” Tanpa Gabby sadari, sebuah mobil melesat kencang ke arahnya. Gabby menoleh, dan menatap kilatan lampu depan mobil. Ia membuka mulut untuk berteriak... *** Mata Gerry terbuka. Ia terbangun dengan kaget, dan menatap sekelilingnya. Ia telah berada kembali di kamarnya, di pagi hari. Spontan Gerry mengamati tubuhnya sendiri. Rambut pendek! Dada rata! Ia langsung berteriak girang, ”GUE COWOK LAGI!!” Pintu kamar terbuka, dan ibu Gerry masuk sambil mencak-mencak. ”Kamu ini, Gerry! Bukannya siap-siap ke sekolah, malah teriak-teriak!” Gerry langsung melompat dari tempat tidurnya dan memeluk ibunya erat-erat. Ibu tentu saja terkejut, ”Kenapa kamu, Ger?” ”Bu, maafin aku sudah sering nakal dan ga nurut sama Ibu. Aku sayang ibu”, bisik Gerry. Ibunya tersenyum bingung, ”Iya, ibu maafkan. Ibu juga sayang kamu. Sudah, segera kamu siap-siap” Setelah Gerry melepaskan pelukannya, Ibu nkeluar sambil berkata, ”Di meja kamu ada gambar buatan Evi. Katanya, dia ingin tunjukin itu sama kamu” Gerry mencomot kertas gambar di mejanya, dan menatap gambar di situ. Ternyata, itu adalah gambar wajah dari gerry, dengan tulisan di bawahnya, ”Kakakku Tersayang”. Gerry merasakan haru, terbayang di benaknya wajah bulat berkerudung adiknya. Nanti, ia harus berterima kasih pada Evi dan memuji gambarnya. Gabby terduduk kembali dan melamun. Apakah benar semua kejadian saat ia menjadi ’Gabby’ hanyalah mimpi belaka? Rasanya itu terlalu nyata sebagai mimpi...Tanpa sadar, Gerry menatap ke bawah, ke lutut kirinya. Ada bekas luka di situ.

  kirim ke teman |   versi cetak

Penyuntingan oleh editor Kartunet.com

Untuk mengirimkan hasil karya anda agar dipublikasikan di situs kartunet.com, silakan klik Kirim Karya

Komentar karya



Ada 10 komentar tentang karya ini :

Minggu, 12-Apr-09 - oleh : Flo

Bwt cwok, dh tw kn gmna sshnya jd cwek. Cwok emang ska, ngejudge cwek dr covernya aja!!!

Minggu, 17-Feb-08 - oleh : puput

bagus banget,
cowok memang harus tahu pentingnya cewek.

Senin, 19-Mar-07 - oleh : rani

jadi dia mimpi ya? dia tidurnya kelamaan ya? kok mimpinya panjang buuanget.

Rabu, 17-Jan-07 - oleh : Dondik Robini

Yupz, gue setuju banget kalok ceritanya buanguuuuuuuuuuus bangeeet, dan kalok ada yang nggak ngerti... Perlu banyak baca banyak karya aja. Thank's udah sharring cerpen.

Kamis, 11-Jan-07 - oleh : fitri

maaf aku nggak nggerti ceritanya

Halaman 1 dari 2 | Selanjutnya >>

Formulir pengisian komentar


Aturan :
Kode HTML tidak diperbolehkan.
Dilarang pula menggunakan tanda baca, kecuali tanda titik \".\", koma \",\", kurung buka tutup \"()\", dan tanya atau seru \"? !\".
Nama
Email
Komentar

Baca juga:


09-Juli-2006Karena Wanita Ingin Dimengerti
14-Juni-2006The Sixth Sense
01-Juni-2006Friendship
26-Mei-2006Di Tengah Kisah
14-Mei-2006Secret Admirer


   

searching Box


Advance Search

   

The Most Wanted

Cerpen

  1. Nur The First Time
  2. cinta di kampus ungu
  3. Karena Wanita Ingin Dimengerti

Puisi

  1. Puisi Patah Hati
  2. INDAHNYA PERSAHABATAN
  3. Perpisahan

Esei

  1. Masihkah ada nasionalisme kita?
  2. Perjuangan Yang Patah
  3. PENINGKATAN MUTU SUMBER DAYA MANUSIA DARI BERBAGAI SISI

Cerita Lucu

  1. abunawas & jerita-nya
  2. Pak Syukur dan Bu Sabar
  3. Dokter Brengsek

Cerita Bersambung

  1. Perjalanan Enam Bintang : Komitmen Cinta
  2. FERDY'S STORY- ULANG TAHUN INDRY (episode2).
  3. Perjalanan Enam Bintang : Antara Dua Hati


   

Advertisements


   

Supported by

Indonesian Radio Online

CO.CC:Free Domain


   

Latest Links

PTC 7 sense perklik
[Added: Minggu, 21-Jun-09]
Dimaster Pulsa Murah (Pulsa DPM)
[Added: 21-Juni-20Sep, --]
Dimas Humero's site
[Added: 21-Juni-20Sep, --]
Kumpul Blogger Indonesia
[Added: Sabtu, 09-Mei-09]
Adsense Indonesia
[Added: Sabtu, 09-Mei-09]
Submit Your Site Here
» Add Link
» Browse link

   

Join Publisher




Kartunet Advertisements



IndoBanner Exchanges


managed and developed by Kartunet Group january 19th, 2006-2010
Web Design